Masih sebagai “oleh-oleh” kami (saya, Aster dan Memed) dari Pasir Putih (Pasput) Situbondo, kali ini saya ingin sedikit membagi informasi tentang kondisi terumbu karang di Pasput.
Tiga tahun lalu (2008), setelah sempat “di sapu bersih” oleh kalangan penyelam dari gugusan terumbu karang Pasput, tampaknya populasi A. planci mulai meningkat lagi. Setelah sempat sulit dijumpai, saat ini A. planci kembali relatif mudah ditemukan, meskipun dalam kelimpahan yang rendah (<20 individu/ha) dan masih dibawah ambang batas untuk dapat dikatakan terjadi ledakan populasi (outbreak).
Meskipun demikian, saya kira tidak salah kalau mulai saat ini kami perlu melakukan pemantauan berkala tentang populasi, behavior dan ekologi bintang laut ini, dengan harapan dapat menentukan langkah yang sekiranya tepat untuk mencegah atau bahkan menanggulangi bila memang terjadi outbreak.
Sesuai dengan beberapa literatur, A. planci di Pasput umumnya dijumpai berada dekat koloni karang Pocilloporidae atau Acroporidae, kadang-kadang saja kami temukan hewan ini disekitar kacang Poritidae (ataupun bila ada, dekat Pocilloporidae bercabang). A. planci merupakan pemangsa karang yang rakus; hewan ini memakan karang dengan cara menempelkan perutnya (yang mengandung banyak enzim pencernaan) pada permukaan polip karang. Enzim-enzim tersebut akan membuat jaringan karang menjadi lembek seperti bubur. Saat perutnya ditarik kembali, bubur polip akan ikut tersedot dan hanya menyisakan kerangka kapur yang tetap utuh. Selanjutnya, kerangka karang akan mudah ditempeli oleh larva atau spora biota lain, termasuk sponge, ascidia dan sebagainya.
Kasus-kasus kerusakan terumbu karang akibat outbreak A. planci sudah banyak dilaporkan, misalnya di Great Barrier Reef Australia dan Guam. Kerusakan dapat mencapai 50% – 90%; dan tentu saja kami tidak berharap hal yang sama akan terjadi di terumbu karang Pasput, mengingat bahwa Pasput dapat dikatakan merupakan salah satu gugus terumbu dengan kondisi “sedang-baik” yang masih tersisa di pesisir utara Jawa Timur. (fm/iecits).
