Biodiversity@ITS Seri II: Kupu-kupu dan Capung, sebuah pengantar

Keanekaragaman Hayati atau Biodiversity merupakan salah satu tolok ukur kesehatan suatu ekosistem di suatu tempat. Sangat tepat kalau program Ecocampus di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengangkatnya menjadi salah satu rencana aksi, karena ITS ingin menciptakan sebuah lingkungan kampus dimana komunitas-sivitas akademika ITS adalah individu-individu yang melindungi keanekeragaman hayati yang hidup di lingkungan kampus ITS.

“Tak kenal maka tak sayang” begitu kata pepatah. Untuk menciptakan budaya perilaku menyanyangi flora dan fauna yang hidup di ITS, maka sivitas akademika ITS perlu mengenal mereka lebih dalam, kharakteristik mereka, cara mereka hidup dan sebagainya. Hal ini nantinya juga menjadi tauladan bagi masyarakat di sekitar lingkungan kampus ITS pula.Kampus ITS yang dulunya berupa rawa-rawa, saat ini dikenal sebagai kampus hijau dengan pepohonan yang tinggi dan lebat serta taman dan ruang terbuka yang luas. Kombinasi tersebut tidak hanya menjadikan kampus ITS menjadi semakin nyaman bagi manusia yang beraktivitas di dalamnya, tetapi juga bagi burung-burung liar dan segala fauna yang hidup dan berkembang biak di dalamnya.

 

Biodiversity@ITS: Living in Biodiversity, Living in Harmony

Triyogi Yuwono / Rektor ITS

 

Download buku Biodiversity@ITS Seri II: Kupu-kupu dan Capung. pdf

Mating Chain Aplysia oculifera

Akhir Oktober 2012 lalu, terjadi pemandangan yang berbeda di area subtidal pantai berbatu Balekambang, dimana di permukaan batuan yang terendam tampak struktur seperti pita berwarna putih tersusun spiral. Sepintas, mungkin pengunjung pantai tidak akan menduga bahwa benda tersebut adalah massa telur Opisthobranchia.

Gambar

Opisthobranchia sendiri merupakan salah satu subkelas dari Gastropoda dengan semua anggotanya hidup di laut, bertubuh lunak dan biasanya tanpa cangkang. Terdiri atas 5 bangsa: Anaspidea, Sacoglossa, Cephalaspidea, Notaspidea dan Nudibranchia. Salah satu Opisthobranchia yang umum dijumpai di Balekambang adalah Aplysia oculifera (kelinci laut bangsa Anaspidea, famili Aplysiidae).

 

 

 

 

 

Aplysia oculifera ini makanannya berupa makroalga seperti Enteromorpha intestinalis dan Ulva lactuca; mungkin hal ini yang menyebabkan melimpahnya si Aplysia di Bakekambang, mengingat bahwa jenis pakan-nya terdapat dalam jumlah yang melimpah.

Nah, massa telur yang melimpah tadi tampaknya merupakan telur dari si Aplysia; dan sepertinya akhir Oktober kemarin merupakan musim kawin-nya. Saat di lapangan, secara visual kami mencatat bahwa dalam luasan 50 m2 dapat ditemukan tidak kurang dari 35 individu Aplysia; suatu catatan yang bisa dianggap luar biasa karena umumnya Opisthobranchia ditemukan dalam jumlah yang relatif sedikit pada satu area yang cukup luas.

Saat musim kawin, Aplysia biasanya ditemukan bergerombol di satu lokasi, terkait dengan perilaku kawin (mating behavior)nya. Sebagimana siput laut lainnya, Aplysia juga termasuk hermaphrodite dan saat kawin dapat menjadi jantan atau betina secara simultan. Saat kawin, individu yang “sedang menjadi jantan” akan naik ke bagian belakang individu “betina” dan menyusupkan kepalanya ke lipatan parapodia di punggung betina (note: penis terdapat di bagian kanan kepala sedangkan “vagina” di rongga mantel di bawah lipatan parapodia).

Nah, biasanya –dengan alasan meningkatkan keberhasilan reproduksi- akan ada individu ke-3 yang ikut campur. Si individu ke-3 ini juga akan menyusupkan kepala dan memasukkan penisnya ke vagina individu yang sedang menjadi jantan tadi, semacam threesome gitu-lah. Jadinya, saat mating bisa saja satu individu menjadi jantan dan betina pada saat yang bersamaan, hanya saja masing-masing individu tidak dapat membuahi telurnya sendiri. Yang menarik, saat kawin bisa jadi tidak hanya tiga individu yang terlibat; bisa 4, 5, 6, atau banyak sekali, sehingga membentuk suatu rantai kawin (mating chain). Alasan tersebut pula yang tampaknya menyebabkan kenapa bisa ditemukan banyak individu kelinci laut pada satu area sempit.

 

 

Well, dunia memang penuh dengan hal-hal menakjubkan, seperti mating chain-nya si Aplysia. Tapi jangan sampai Anda meniru perilakunya lho ya..

Biodiversitas ITS, satu langkah menuju ITS EcoCampus

Gambar

Bertepatan dengan acara Dies Natalis ke-51, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengusung tema EcoCampus – Think.Green Action.Sustain yang mengimplementasikan proyek ‘hijau’ di lingkungan kampus dan komunitas sekitar. Misi dari ITS EcoCampus ini adalah peningkatan kesadaran lingkungan untuk seluruh civitas akademika melalui berbagai program yang berkesinambungan seperti efisiensi penggunaan listrik, air, kertas, kebersihan lingkungan, penggunaan ruang terbuka hijau, efisiensi pengelolaan sampah & limbah, kesadaran penggunaan kendaraan ramah lingkungan dan safety riding.

Selanjutnya, sebagai bentuk partisipasi aktif komunitas Intertide dalam mensukseskan agenda EcoCampus tersebut; anggota Intertide berupaya menyusun suatu database keanekaragaman hayati (biodiversitas) flora dan fauna di seputaran kampus ITS. Hasilnya, selama periode November 2011 – Mei 2012, terdata sedikitnya 70 spesies burung (Avifauna), 90 spesies kupu-kupu (Lepidoptera), 24 spesies Odonata (capung), 10 spesies ikan (Pisces), 6 spesies Amphibia, 15 spesies Reptil, 10 spesies Mollusca dan 8 spesies Mamalia liar. Untuk kelompok flora, baik liar maupun artifisial, kami telah mendata sedikitnya 71 spesies pohon, 15 spesies palem dan pakis serta 132 spesies tanaman hias lain.

Ke depan, database tersebut akan di-publish dalam web resmi ITS EcoCampus serta dicetak dalam seri buku Biodiversitas ITS. Koleksi foto flora-fauna ITS dapat diakses pada page “Gallery” pada web ini. (fkm-iecits)

Bintang laut mahkota duri (Acanthaster planci) di Pasir Putih, menuju outbreak?

Masih sebagai “oleh-oleh” kami (saya, Aster dan Memed) dari Pasir Putih (Pasput) Situbondo, kali ini saya ingin sedikit membagi informasi tentang kondisi terumbu karang di Pasput.

Tiga tahun lalu (2008), setelah sempat “di sapu bersih” oleh kalangan penyelam dari gugusan terumbu karang Pasput, tampaknya populasi A. planci mulai meningkat lagi. Setelah sempat sulit dijumpai, saat ini A. planci kembali relatif mudah ditemukan, meskipun dalam kelimpahan yang rendah (<20 individu/ha) dan masih dibawah ambang batas untuk dapat dikatakan terjadi ledakan populasi (outbreak).

Meskipun demikian, saya kira tidak salah kalau mulai saat ini kami perlu melakukan pemantauan berkala tentang populasi, behavior dan ekologi bintang laut ini, dengan harapan dapat menentukan langkah yang sekiranya tepat untuk mencegah atau bahkan menanggulangi bila memang terjadi outbreak.

Sesuai dengan beberapa literatur, A. planci di Pasput umumnya dijumpai berada dekat koloni karang Pocilloporidae atau Acroporidae, kadang-kadang saja kami temukan hewan ini disekitar kacang Poritidae (ataupun bila ada, dekat Pocilloporidae bercabang). A. planci merupakan pemangsa karang yang rakus; hewan ini memakan karang dengan cara menempelkan perutnya (yang mengandung banyak enzim pencernaan) pada permukaan polip karang. Enzim-enzim tersebut akan membuat jaringan karang menjadi lembek seperti bubur. Saat perutnya ditarik kembali, bubur  polip akan ikut tersedot dan hanya menyisakan kerangka kapur yang tetap utuh. Selanjutnya, kerangka karang akan mudah ditempeli oleh larva atau spora biota lain, termasuk sponge, ascidia dan sebagainya.

Kasus-kasus kerusakan terumbu karang akibat outbreak A. planci sudah banyak dilaporkan, misalnya di Great Barrier Reef Australia dan Guam. Kerusakan dapat mencapai 50% – 90%; dan tentu saja kami tidak berharap hal yang sama akan terjadi di terumbu karang Pasput, mengingat bahwa Pasput dapat dikatakan merupakan salah satu gugus terumbu dengan kondisi “sedang-baik”    yang masih tersisa di pesisir utara Jawa Timur. (fm/iecits).

Reticulidia fungia – New recorded Nudibranch species from Pasir Putih

“Iseng-iseng berhadiah” mungkin ungkapan yang pas saat saya dan Ahmad “Memed” Yanuar coba-coba nyelam di salah satu dive spot baru di Pasir Putih Situbondo, tepatnya di Takat Palapa Kecil. Saya sebut dive spot baru karena lokasi ini memang belum banyak didatangi penyelam. Kondisi terumbu karang juga cukup bagus, hanya saja visibility agak rendah. Spons dan soft coral melimpah, mungkin itu juga yang jadi alasan kenapa di lokasi ini Nudibranch-nya banyak; sekali turun bisa ketemu 4 – 7 spesies dengan frekuensi perjumpaan yang lumayan.

Kembali ke istilah “new recorded species”, baru kali ini saya menemukan seekor nudibranch jenis Reticulidia fungia (famili Phyllididae) di kawasan sekitar Situbondo -Probolinggo. Entah karena baru sekali ke takat itu atau karena memang jenis ini agak jarang jadi baru ketemu? saya ndak tau persis jawabnya.. hehehehe…

 

Sebaran R. fungia mencakup perairan Pasifik tengah hingga barat (termasuk Fiji hingga Mikronesia), Australia timur hingga Taiwan. Tercatat juga ditemukan di Bali dan kepulauan Christmas. Spesies ini punya ridge di bagian dorsal, dimana bagian dasar ridge relatif lebar dan bertepi putih. Tepi mantel berwarna biru keabu-abuan.

Overall, bentuk dan pola warna spesies satu ini cukup unik dan menarik; dan semoga di lain kesempatan saya atau Anda bisa ketemu sama si mungil yang cantik ini. (fm/iecits).

Nudibranchia di Kawasan Terumbu Karang Pasir Putih dan Sekitarnya (updated list)

Dengan niatan untuk memenuhi janji tiga tahun lalu tentang diversitas Nudibranchia di Pasir Putih Situbondo; akhirnya sekarang sempat juga untuk bikin list terbaru tentang Nudibranch dan kerabatnya (Ophistobranchia) dilokasi tersebut.

Sampai saat pengamatan terakhir (Juli 2011), setidaknya ada 31 spesies Nudibranch dari famili Chromodorididae, Phyllididae, Dorididae, Kentrodorididae, Platydorididae, Discodorididae, Arminidae dan Zephyrinidae. Ophistobranchia lain yang ditemukan ada 2 spesies Sacoglossa (famili Elysiidae) dan masing-masing 1 spesies dari ordo Cephalaspidea (famili Aplysiidae) dan Anaspidea (famili Aglajidae). List spesies adalah sebagai berikut;

STB: Situbondo; PRB: Probolinggo

Anggota famili Chromodorididae dan Phyllididae menjadi kelompok yang paling sering ditemukan; mulai dari zona intertidal (pasang surut) hingga kedalaman 25 meter. Foto-foto koleksi Nudibranch yang ditemukan di Pasir Putih dan sekitarnya dapat dilihat pada page “Gallery”.

 

fm/iecits

Capung (subordo Anisoptera) di Kampus ITS

Biarpun istilah “intertide” mengacu pada zona pasang-surut di kawasan pantai, menurut kami bukan berarti bahwa tulisan dalam blog ini harus melulu bertemakan pesisir dan laut. Anggap saja tulisan ini sebagai bentuk aksi kami untuk meng-explore ekologi kampus ITS. Toh, kampus  ITS sendiri bisa dikatakan berada di lingkungan pesisir timur Surabaya.

Bangsa capung-capungan (Odonata) dibedakan atas dua subordo yaitu Anisoptera dan Zygoptera. Anisoptera mencakup capung biasa sedangkan Zygoptera mencakup jenis-jenis capung jarum.

Sebagaimana di lokasi-lokasi lain, capung di ITS selalu ditemukan tidak jauh dari badan perairan. Dalam siklus hidupnya, capung memerlukan air sebagai habitat bagi larva (nimfa)nya. Terdapat sedikitnya 13 jenis Anisoptera di ITS, 12 jenis masuk famili Libellulidae sedangkan 1 jenis termasuk famili Aeshnidae.

A. Famili Libellulidae

1. Brachydiplax chalibea

Panjang abdomen 21-25 mm dan panjang sayap 26-30 mm. Umumnya menyukai kolam dan rawa sebagai tempat berbiak. Tubuh jantan berwarna biru keputih-putihan, ujung abdomen berwarna kehitaman. Jenis ini termasuk pemalu dan sukar didekati.

(lokasi: hutan kampus ITS)

2. Brachythemis contaminata

Tubuh agak pendek (abdomen 18-21 mm, sayap 20-25 mm), sayap transparan dan bening kecoklatan. Jenis ini tidak pernah terlihat jauh dari badan perairan. Biasanya terbang hanya sebentar, suka berlama-lama hinggap pada ranting atau rerumputan yang menjulur diatas permukaan air.

(individu jantan, lokasi: hutan kampus ITS)

3. Crocothemis servilia

Individu jantan berwarna merah cerah sedangkan betina berwarna lebih pucat. Panjang abdomen jantan 24-35 mm dan sayap 27-38 mm. Pada betina, panjang abdomen 25-32 mm dan sayap 31-37 mm.

(individu jantan, lokasi: hutan kampus ITS)

(individu betina, lokasi: hutan kampus ITS)

4. Orthetrum sabina

Termasuk jenis capung predator yang rakus memangsa kutu, ngengat atau bahkan capung jenis lain. Tubuh berwarna hijau kekuningan berbelang hitam. Abdomen ramping dan membulat. Panjang abdomen 30-36 mm dan panjang sayap 30-36 mm.

(lokasi: hutan kampus ITS)

5. Pantala flavescens

Secara umum mirip dengan C. servilia betina namun dengan sayap belakang yang jauh lebih lebar. Pangkal sayap belakang berlekuk, tanda warna pada pangkal sayap belakang tidak terlalu jelas. Panjang abdomen 29-35 mm dan panjang sayap 28-41 mm.

(lokasi: dekat gedung Biologi ITS)

6. Tholymis tillarga

Capung jantan mudah dikenali berkat bagian sayap belakang yang berwarna-warni bila tertimpa sinar matahari. Gaya terbang capung ini mirip dengan Zyxomma obtusum. Capung jenis ini lebih sering dijumpai terbang diatas badan perairan. Jenis ini mudah dijumpai namun dengan kelimpahan yang relatif rendah.

(foto spesimen awetan)

7. Zyxomma obtusum

Capung jenis ini bersifat nokturnal, biasanya dijumpai hanya saat dini hari atau selepas matahari terbenam. Tubuh berwarna putih seperti kapur tulis dengan ujung sayap berwarna kecoklatan. Terbang sangat cepat diatas permukaan air sehingga sukar diamati.

(www.asiadragonfly.net)

8. Rhyothemis phyllis

Merupakan jenis capung yang berwarna menarik, dengan bagian pangkal sayap belakang yang bercorak kuning-hitam. Termasuk jenis yang agak jarang dijumpai, biasanya terdapat disekitar badan perairan yang lebar dan tenang.

(lokasi: dekat gedung Biologi ITS)

9. Raphismia bispina

Individu betina berwarna dasar hijau kusam, jantan mirip B. chalybea. Termasuk jenis capung yang jarang dijumpai.

(lokasi: kampus ITS)

10. Neurothemis tullia

Ukuran lebih kecil daripada B. contaminata. Bagian pangkal sayap berwarna hitam metalik.

(lokasi: hutan kampus ITS)

11. Diplacodes trivialis

Capung berukuran kecil (abdomen <25 mm), terdapat sexual dimorphism pada individu jantan dan betina. Capung jantan memiliki warna dasar biru sedangkan individu betina memiliki warna dasar hijau. Umum dijumpai disekitar kampus ITS.

(individu jantan, lokasi: hutan kampus ITS)

12. Unknown species (kemungkinan Cratilla sp)

Termasuk jenis capung berukuran kecil. Sayap transparan dengan bagian ujung berwarna hitam. Mulai dari thorax hingga abdomen terdapat garis kuning lebar memanjang.

(foto spesimen awetan)

B. Famili Aeshnidae

Di kawasan kampus ITS hanya terdapat satu jenis capung dari famili ini yaitu Anax guttatus. Merupakan jenis capung nokturnal berukuran besar (abdomen >50 mm). Waktu aktifnya serupa dengan Zyxomma obtusum. Bagian thorax berwarna hijau lembut, abdomen segmen ke-2 hingga ke-4 berwarna biru cerah. Termasuk jenis capung yang jarang teramati.

(www.asiadragonfly.net)